Pasar properti Indonesia pada 2026 menghadapi situasi yang menarik. Penjualan rumah belum sepenuhnya kembali ke jalur pertumbuhan kuat, tetapi permintaan tidak menghilang. Di balik angka penjualan yang berfluktuasi, data Kredit Pemilikan Rumah (KPR) 2026 memberikan petunjuk mengenai kelompok konsumen yang masih aktif melakukan pembelian.
Bank Indonesia mencatat bahwa penjualan properti residensial primer pada kuartal II 2026 masih terkontraksi 2,36% secara tahunan. Namun, kondisi tersebut jauh membaik dibandingkan kuartal I 2026 ketika penjualan turun 25,67%. Perbaikan terutama didorong penjualan rumah tipe kecil dan besar, sementara tipe menengah masih terbatas.
Hal yang lebih menarik terdapat pada metode pembayaran. Sekitar tujuh dari sepuluh transaksi rumah primer masih mengandalkan KPR. Data tersebut menunjukkan bahwa pembeli berbasis kredit tetap menjadi mesin penting pasar hunian Indonesia.
Data KPR 2026: Hampir 70% Pembelian Rumah Menggunakan Kredit
Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia mencatat pada kuartal I 2026, 69,87% pembelian rumah primer dilakukan melalui KPR. Sementara pembayaran tunai bertahap memiliki porsi 19,61% dan pembelian tunai sekitar 10,53%.
Pada kuartal II 2026, pangsa KPR bahkan sedikit meningkat menjadi 70,05% dari total skema pembelian rumah primer.
Data tersebut penting karena menunjukkan bahwa aktivitas pasar properti tidak terutama digerakkan pembeli dengan dana tunai besar. Justru konsumen yang bergantung pada pembiayaan perbankan masih menjadi kelompok dominan.
Dengan kata lain, pertanyaan mengenai siapa yang masih membeli rumah pada 2026 tidak dapat dilepaskan dari kemampuan konsumen memperoleh kredit dan menjaga cicilan tetap sesuai pendapatan.
Ringkasan Data Pasar Rumah dan KPR 2026
Berikut beberapa angka penting yang menggambarkan kondisi pasar:
| Indikator | Data |
|---|---|
| Pangsa KPR kuartal I 2026 | 69,87% |
| Tunai bertahap kuartal I 2026 | 19,61% |
| Tunai kuartal I 2026 | 10,53% |
| Pertumbuhan nilai KPR kuartal I 2026 | 4,79% yoy |
| Pangsa KPR kuartal II 2026 | 70,05% |
| Penjualan rumah primer kuartal I 2026 | -25,67% yoy |
| Penjualan rumah primer kuartal II 2026 | -2,36% yoy |
| Pertumbuhan harga rumah kuartal II 2026 | 0,69% yoy |
Sumber: Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia.
Angka-angka tersebut menggambarkan pasar yang tidak sepenuhnya ekspansif, tetapi tetap memiliki basis pembeli aktif.
Siapa yang Masih Aktif Membeli Rumah pada 2026?
Data Bank Indonesia tidak secara langsung membagi pembeli KPR berdasarkan profesi atau kelompok umur dalam angka di atas. Karena itu, profil pembeli tidak boleh disimpulkan seolah-olah 70,05% tersebut seluruhnya berasal dari generasi atau pekerjaan tertentu.
Namun, karakter KPR memberikan gambaran mengenai kondisi finansial konsumen yang mampu melakukan transaksi.
Pembeli berbasis KPR membutuhkan kemampuan membayar uang muka, memenuhi penilaian kelayakan kredit, dan menyediakan pendapatan untuk cicilan bulanan. Dengan demikian, kelompok yang masih aktif kemungkinan besar merupakan konsumen yang memiliki pendapatan relatif terukur dan cukup percaya diri mengambil komitmen keuangan jangka panjang.
Mereka tidak harus memiliki uang untuk membeli rumah secara tunai. Kuncinya adalah kemampuan mengubah pendapatan masa depan menjadi kemampuan membeli rumah hari ini melalui pembiayaan.
Pembeli Rumah Pertama Tetap Menjadi Pasar Penting
Salah satu segmen yang relevan bagi KPR adalah pembeli rumah pertama. Bagi kelompok ini, mengumpulkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk transaksi tunai bukan pilihan realistis.
KPR menjembatani kesenjangan tersebut.
Misalnya, seorang konsumen mempunyai tabungan untuk uang muka dan biaya transaksi, tetapi belum memiliki dana untuk melunasi harga rumah. Selama pendapatan mampu menopang cicilan, pembelian tetap dapat dilakukan.
Inilah alasan rumah pada rentang harga yang menghasilkan cicilan terjangkau mempunyai peluang mempertahankan permintaan.
Bagi pengembang, pertanyaannya kemudian bukan hanya “berapa harga rumah?”, tetapi “berapa cicilan yang harus dibayar konsumen setiap bulan?”
Perubahan perspektif ini penting ketika mayoritas transaksi pasar primer menggunakan kredit.
Rumah Tipe Kecil Kembali Menunjukkan Perbaikan
Data penjualan juga memberikan petunjuk mengenai jenis produk yang masih memperoleh permintaan.
Pada kuartal I 2026, kondisi pasar memang berat. Penjualan properti residensial primer secara keseluruhan turun 25,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, Bank Indonesia mencatat penjualan rumah tipe menengah meningkat, sedangkan penjualan tipe kecil dan besar belum kuat.
Situasinya berubah pada kuartal berikutnya.
Pada kuartal II 2026, kontraksi total penjualan menyempit menjadi 2,36%. Perbaikan tersebut didorong peningkatan penjualan rumah tipe kecil dan besar, sedangkan penjualan tipe menengah masih terbatas.
Perubahan ini menunjukkan pasar tidak bergerak dalam satu arah. Preferensi pembeli dapat bergeser cukup cepat sesuai harga, pasokan, kondisi pembiayaan, dan kebutuhan.
Kelas Menengah yang Bankable Menjadi Konsumen Strategis
Ketika hampir 70% transaksi primer menggunakan KPR, konsumen yang “bankable” menjadi sangat penting.
Bankable secara sederhana berarti konsumen memiliki profil finansial yang memenuhi kriteria lembaga pembiayaan. Pendapatan, kewajiban kredit, riwayat pembayaran, uang muka, dan berbagai faktor lain dapat menentukan apakah pengajuan kredit dapat disetujui.
Karena itu, konsumen dengan pendapatan tetap tetapi tidak mempunyai kekayaan besar tetap bisa menjadi pembeli aktif.
Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa keterjangkauan cicilan menjadi faktor penting. Harga properti mungkin hanya naik terbatas, tetapi kemampuan membeli dapat berubah apabila beban cicilan meningkat atau kondisi pendapatan rumah tangga melemah.
Dengan demikian, pasar pengembang tidak cukup didefinisikan berdasarkan orang yang “ingin membeli rumah”. Pasar yang lebih realistis adalah konsumen yang ingin membeli dan mampu mendapatkan pembiayaan.
Pertumbuhan KPR Masih Positif
Data lain yang menarik adalah nilai KPR masih mencatat pertumbuhan.
Pada kuartal I 2026, total nilai KPR tumbuh 4,79% secara tahunan. Angka tersebut memang melambat dibandingkan pertumbuhan 7,05% pada kuartal sebelumnya. Secara kuartalan, nilai KPR tumbuh 0,37%, juga lebih rendah dibandingkan 1,72% pada kuartal IV 2025.
Artinya, kredit perumahan masih berkembang, tetapi kecepatannya lebih moderat.
Kondisi tersebut sesuai dengan gambaran pasar 2026: konsumen belum berhenti membeli, tetapi keputusan pembelian menjadi lebih selektif.
Pembeli perlu memastikan harga rumah, uang muka, tenor, serta cicilan sesuai dengan kemampuan finansial sebelum berkomitmen.
Mengapa Cicilan Lebih Penting daripada Harga Brosur?
Sebuah rumah dapat dipasarkan dengan harga Rp600 juta, tetapi angka tersebut belum menjelaskan kemampuan beli konsumen.
Pembeli KPR harus menghitung uang muka, pokok pinjaman, tenor, bunga, biaya administrasi, asuransi, dan biaya terkait transaksi.
Karena itu, dua rumah dengan selisih harga yang terlihat kecil dapat menghasilkan perbedaan cicilan yang berarti selama periode kredit.
Dalam pasar yang didominasi KPR, pengembang yang mampu menyusun produk sesuai kemampuan cicilan target konsumen mempunyai keunggulan.
Rumah kompak dengan desain efisien, misalnya, dapat menekan harga tanpa harus menghilangkan fungsi utama seperti dua kamar tidur, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, dan area parkir.
Data KPR Memberikan Pesan bagi Pengembang
Angka 70,05% menunjukkan pembiayaan bukan sekadar fasilitas tambahan dalam pemasaran properti. KPR merupakan bagian inti dari proses pembelian rumah primer.
Karena itu, pengembang perlu memahami kemampuan kredit calon pembelinya.
Strategi pemasaran dapat lebih efektif jika informasi tidak berhenti pada harga jual. Konsumen juga membutuhkan simulasi uang muka, estimasi cicilan, tenor, serta penjelasan biaya yang harus disiapkan.
Produk properti pun perlu disesuaikan. Untuk segmen pembeli rumah pertama, efisiensi ukuran bangunan dan harga dapat lebih bernilai daripada penambahan fitur yang membuat harga meningkat terlalu jauh.
Apakah Pembeli Tunai Sudah Tidak Penting?
Tidak. Pembeli tunai tetap menjadi bagian pasar.
Pada kuartal I 2026, pembayaran tunai mencakup sekitar 10,53% skema pembelian rumah primer, sementara tunai bertahap mencapai 19,61%.
Artinya, sekitar tiga dari sepuluh pembelian pada periode tersebut dilakukan tanpa skema KPR.
Namun, proporsi KPR yang jauh lebih besar menunjukkan bahwa arah pasar massal sangat dipengaruhi konsumen yang membutuhkan kredit.
Itulah sebabnya perubahan kondisi pembiayaan berpotensi langsung memengaruhi permintaan properti.
Kesimpulan
Data KPR mengungkap siapa yang masih aktif membeli rumah pada 2026: pasar terutama tetap ditopang konsumen yang menggunakan pembiayaan perbankan.
Pada kuartal II 2026, KPR menyumbang 70,05% dari skema pembelian rumah primer. Pada saat bersamaan, penjualan properti primer menunjukkan pemulihan dengan kontraksi yang menyempit dari 25,67% menjadi 2,36% secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan permintaan rumah belum hilang. Konsumen hanya semakin berhati-hati.
Kelompok yang berpotensi tetap aktif adalah konsumen dengan pendapatan memadai, profil kredit yang memenuhi persyaratan bank, uang muka yang tersedia, dan kebutuhan hunian yang nyata.
Bagi pasar properti, produk paling relevan pada 2026 bukan sekadar rumah yang terlihat menarik. Rumah yang dapat diterjemahkan menjadi cicilan realistis bagi target konsumennya mempunyai peluang lebih besar untuk terserap pasar.
FAQ Data KPR dan Pembelian Rumah 2026
1. Berapa persen pembelian rumah menggunakan KPR pada 2026?
Bank Indonesia mencatat KPR memiliki pangsa 69,87% dari skema pembelian rumah primer pada kuartal I 2026. Pada kuartal II, porsinya meningkat tipis menjadi 70,05%.
2. Apakah penjualan rumah masih turun pada 2026?
Secara tahunan masih terjadi kontraksi pada kuartal II, tetapi kondisinya membaik signifikan. Penurunan menyempit dari 25,67% pada kuartal I menjadi 2,36% pada kuartal II 2026.
3. Apakah KPR masih tumbuh pada 2026?
Ya. Pada kuartal I 2026, total nilai KPR tercatat tumbuh 4,79% secara tahunan, meskipun pertumbuhannya melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.
4. Rumah tipe apa yang penjualannya membaik?
Pada kuartal II 2026, perbaikan penjualan properti residensial primer didorong peningkatan penjualan rumah tipe kecil dan besar. Penjualan tipe menengah masih terbatas.
5. Apa yang paling penting bagi pembeli rumah dengan KPR?
Selain harga rumah, pembeli perlu mempertimbangkan uang muka, kemampuan cicilan, tenor, bunga, kewajiban kredit lain, serta biaya transaksi. Tujuannya agar kepemilikan rumah tetap sesuai dengan kemampuan keuangan jangka panjang.
6. Apa arti data KPR 2026 bagi pasar properti?
Data menunjukkan pembeli yang mengandalkan kredit masih menjadi tulang punggung pasar rumah primer. Karena itu, keterjangkauan cicilan dan akses terhadap pembiayaan menjadi faktor penting yang menentukan apakah permintaan dapat berubah menjadi transaksi nyata.
Related posts:

PropertyLounge.id adalah Konsultan Jasa Digital Marketing Property Agancy Terbaik dan Terpercaya Sejak 2008 di Indonesia. Untuk Info lengkap Digital Marketing Property Silahkan Hubungi Kami di +62 819-7810-088



